07 Mei 2009

Perjalanan Hidup...

Rupa Izrail
Dalam sebuah hadits diriwayatkan, Malaikatul maut, Izrail jika akan mencabut nyawa seseorang menampakkan rupa sebagaimana amal perbuatanorang yang akan dimatikan. Terhadap orang yang durhaka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ia akan menampilkan rupa menyeramkan.Sebaliknya kepada orang shalih, ia datang dengan rupa menyenangkan, mengucapkan salam dan memberikan hormat. Hal itu diterangkan olehImam Ghazali dalam kitab Ihya 'Ulumuddin, riwayat dari Ibnu Abbas r.a. Dikisahkan suatu waktu Nabi Ibrahim as yang baru pulang dari bepergian terkejut mendapatkan seorang lelaki berada di kamarnya.
"Siapakah yang menyuruhmu memasuki rumahku?" tanya Nabi Ibrahim as. "Pemilik alam semesta." jawab lelaki itu. Nabi Ibrahim as terperanjat dan berkata, "Jika begitu, siapakah engkau?" "Aku malaikatul maut." jawab lelaki tersebut yang ternyata adalah Malaikat. Nabi Ibrahim as terdiam sejenak dan berkata, "Maukah engkau memperlihatkan rupamu saat akan mencabut nyawa seorang yang shalih?" Malaikat maut itu berkata, "Berpalinglah ke arah sana." Nabi ibrahim as segera berpaling ke arah yang dikehendaki oleh Malaikatul maut kemudian beliau mendapati seorang lelaki tampan mengenakan busana indah dan semerbak wewangi. "Jika engkau datang ke seorang shalih dalam keadaan demikian, sungguh menyenangkan." komentar Nabi Ibrahim as.

Alam Kubur (Barzakh)
Alam kubur merupakan ruang pertama dalam kehidupan di akhirat dan menjadi tempat pertama berseminya tanaman syurga. Tentu bagi seorang yang shalih selama hidup di dunia. Sebaliknya bagi orang yang durhaka kepada Allah, alam kubur adalah bagian dari lubang-lubang yang ada di neraka. Sebab disana pembalasan dari sepak terjang kita selama di dunia mulai terasa.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya alam kubur itu tahap pertama kehidupan akhirat. Jika seseorang selamat pada tahap pertama itu, maka ringanlah pada tahap-tahap berikutnya. Namun kalau tidak selamat pada tahap pertama maka untuk tahap-tahap selanjutnya lebih dahsyat." (Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)
Dijelaskan bahwa jika seorang shalih dimakamkan maka kubur akan menyambutnya dengan ucapan, "Marhaban wa ahlan wasahlan. Engkaulah orang yang kusenangi selama berjalan di punggungku (permukaan bumi). Setelah engkau dalam kekuasaanku kini, aku ingin menyenangkan dirimu." Maka melapanglah alam kubur itu sejauh pandangan mata dan dibukalah pintu syurga. Sebaliknya apabila seorang kafir yang dimakamkan, alam kubur akan menyambutnya dengan ucapan, "Laa Marhaban wala ahlan wasahlan. Engkaulah orang yang paling kubenci saat berjalan di punggungku (permukaan bumi). Setelah engkau dalam kekuasaanku kini, engkau akan merasakan pembalasanku."
Alam kubur itu seketika menghimpit.
Pahala yang tiada putusnya Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amal perbuatannya. Namun Rasulullah saw bersabda, "Ada amalan manusia yang terus menerus mengalirkan pahala sekalipun ia telah mati. Ketiga amalan tersebut yaitu amal jariah, anak yang shalih dan ilmu yang bermanfaat." Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim.

Calon penghuni surga dan calon penghuni neraka
Seseorang yang telah meninggal akan diperlihatkan tempatnya kelak yaitu di surga atau di neraka. Bagi calon penghuni surga, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memperlihatkan pula pemukiman di neraka. Ini untuk membuktikan kebesaran murka dan siksa Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi calon penghuni neraka sehingga calon penghuni surga akan semakin sadar dan mensyukuri karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun bagi calon penghuni neraka, diperlihatkan tempatnya kelak merupakan siksaan yang tiada taranya sebab menantikan datangnya siksa dan petaka jauh lebih berat dari siksa dan petaka itu sendiri. Di dalam kubur, calon penghuni neraka selalu diperlihatkan mengenai kehidupan dan penyiksaan yang akan dialaminya kelak. Mereka kini meyakini bahwa janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan omong kosong seperti dugaannya dahulu ketika masih hidup di dunia. Siksaan akan dirasakan sesudah semua amal perbuatan orang dihisab pada hari kiamat.

Orang yang dibangkitkan dalam keadaan buta pada hari kiamat
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)."
(Al Isra 72)
"Berkatalah ia: "Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan." (Thaha 125-126)
Allah Ta'ala menjelaskan kepada kita bahwa orang yang dibangkitkan dalam keadaan buta pada hari kiamat dahulunya (selama di dunia) diberi mata untuk melihat tetapi matanya tidak dimanfaatkan untuk melihat kebenaran. Ayat-ayat kekuasaan dan kebesaran Allah Ta'ala yang sangat banyaknya tersebut tidak menggugah mereka untuk memikirkan, mengenali dan mengakui kebesaran Allah Ta'ala. Orang-orang yang membuta-tulikan hati dan akalnya di dunia maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membutakan mata mereka pada hari kiamat.

Menjelang Kematian
Jika seorang hamba berada di ambang kematian maka mulutnya terkunci. Pada waktu itu datanglah empat Malaikat secara bergantian. Masing-masing Malaikat setelah mengucapkan salam memberitahukan akhir tugasnya terhadap orang tersebut. Malaikat pertama berkata, "Selama ini aku ditugaskan mengurus rezekimu dan telah kutunaikan dengan baik. Sekarang sudah tidak kudapatkan rezeki untukmu, baik di belahan bumi timur dan barat." Malaikat kedua berkata, "Aku diperintahkan mengurus minumanmu dan kini tidak kuperoleh lagi setetes pun jatah minuman untukmu." Malaikat ketiga berkata, "Aku dipercaya mencari dan menyambung nafasmu dan saat ini tidak kutemukan lagi nafas untukmu." Malaikat keempat berkata, "Ajalmu sepenuhnya diserahkan kepadaku dan sekarang telah habis masanya."
Setelah Malaikat keempat pergi, datanglah Malaikat Raqib dan Atid. Malaikat Raqib tersenyum dan berkata, "Selamat bagimu." Ia mengeluarkan lembaran putih dan berkata, "Akulah yang membukukan amal kebaikanmu selama ini." Diperlihatkan rekaman rangkaian amal perbuatan baik hamba yang akan mati itu. Maka tersenyumlah ia penuh kebahagiaan. Ia merasa hidupnya selama di dunia tidak sia-sia. Ia menjalani kehidupan di dunia selalu diwarnai dengan amal ibadah. Banyak catatannya mengenai shalat lima waktu dengan berjama'ah. Juga mengenai zakat yang selalu dikeluarkannya sampai dengan sedekah yang telah diberikannya, baik yang besar maupun yang kecil seperti memberi minum orang yang kehausan dalam perjalanan. Usai pemutaran rekaman amal kebaikannya, senyum orang itu mengendap. Lebih-lebih setelah melihat kehadiran Malaikat Atid yang tidak ramah. Hamba yang akan mati itu menjadi murung.
Malaikat Atid berkata, "Lihatlah catatan amal kejahatanmu. Akulah yang selama hidupmu ditugaskan membukukannya." Sepasang mata hamba yang akan mati itu berkaca-kaca. Ia menyesali kebodohan dan kelalaiannya selama hidup di dunia. Ia dahulu pernah menyalahgunakan jabatannya, pernah menelantarkan keluarganya, pernah membiarkan fakir miskin kelaparan. Semua amal perbuatann jahatnya mulai dari mengabaikan perintah dan larangan-Nya sampai terhadap sesama manusia terulang di pelupuk mata. Sesaat kemudian membayanglah siksa kubur dan bara api neraka. Maka menangislah ia, menggigil ketakutan sampai datangnya Malaikat maut yaitu Izrail yang bertugas mencabut nyawa. Dari kisah ini dapatlah dimengerti mengapa setiap orang sebelum meninggal dunia terus-menerus menatap langit-langit. Dan bila diajak bicara oleh keluarga yang menunggunya, hanya menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar