07 Mei 2009

Penyakit Hati...

KAGUM DIRI
Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri paling baik melebihi orang lain. Faktor-faktor penyebab sikap kagum diri, diantaranya pujian yang diberikan kepada seseorang secara berlebihan dan tanpa mengindahkan tata cara yang ditetapkan syariat Islam dalam memberikan pujian kepada seseorang. Pujian tersebut mempengaruhi orang yang dipuji. Dia akan merasa mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ini akan membuat orang yang dipuji merasa kagum pada diri sendiri. Tata cara atau etika memuji dalam syariat Islam ada tiga yaitu tidak boleh berlebihan, ditujukan untuk hal-hal yang benar dan tidak menimbulkan fitnah, yaitu membuat orang yang dipuji menjadi kagum pada dirinya sendiri. Apabila tata cara tersebut dapat dipenuhi, maka seseorang boleh memuji orang lain. Dari Abdurahman bin Abi Bakrah dari ayahnnya menceritakan bahwa ada seseorang memuji orang lain dihadapan Rasulullah saw.
Rasulullah saw lalu bersabda, "Celaka engkau! Engkau memotong leher saudaramu." Rasulullah saw mengulangi beberapa kali perkataan tersebut. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Apabila engkau terpaksa harus memuji seseorang, hendaknya engkau berkata, 'Sepanjang yang aku ketahui tentang dia-dan Allah juga mengetahui tentang dia dan saya tidak dapat menyembunyikan dia dihadapan Allah-dia begini dan begitu.'" (HR Bukhari dan Muslim)
Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang kagum diri yaitu orang yang kagum diri hanya memperhatikan nikmat yang didapatinya tanpa memperhatikan Zat yang memberikannya. Ia merasa nikmat tersebut didapatnya karena kepandaiannya, bukan karena pemberian Allah swt, seperti anggapan Qarun. Allah swt menceritakan perkataan Qarun mengenai harta yang dimilikinya dalam Al Qur'an, "Qarun berkata, Sesungguhnnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku.'" (QS al-Qashash: 78)
Orang yang kagum diri lupa atau pura-pura lupa bahwa segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya hanya berasal dari Allah swt. Allah swt berfirman: Dan apa saja yang ada di langit dan di bumi, maka itu dari Allah (datangnya). (QS an-Nahl: 53)
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78)
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari-Nya). (QS Fathir: 3)
Lalai atau tidak memahami hakikat diri dapat menyebabkan seseorang menjadi kagum diri. Seseorang yang kagum diri, tidak sadar akan hakikat dirinya, bahwa dirinya berasal dari air yang hina yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, selalu berada di dalam kekurangan sepanjang hidupnya dan akan kembali ke dalam tanah menjadi bangkai. Selain tidak memahami hakikat dirinya, seseorang juga dapat menjadi kagum diri karena dia selalu mendapatkan penghormatan yang berlebihan dari masyarakat, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, orang-orang berdiri cukup lama untuk menghormatinya, mencium tangan, menundukkan kepala mereka sampai berlebihan, berjalan dibelakangnya dan penghormatan yang berlebihan lainnya. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengharapkan agar orang berdiri (di waktu dia datang), maka bersiap-siaplah untuk mengambil tempat di neraka." (HR Abu Daud)
Suatu ketika Rasulullah saw mendatangi para sahabatnya. Saat itu para sahabat sedang bersandar pada tongkat. Ketika melihat yang datang adalah Rasulullah saw, mereka segera berdiri tegak dengan maksud untuk menghormatinya, maka Rasulullah saw yang melihat hal tersebut bersabda, "Janganlah kalian berdiri seperti yang dilakukan bangsa lain dalam menghormati satu sama lainnya." (HR Abu Daud)
Seseorang yang mendapatkan ketaatan yang berlebihan dari orang lain, yang lepas dari ketentuan-ketentuan Allah swt. Apapun kehendaknya selalu dipenuhi, baik kehendak tersebut baik atau buruk. Ini pada akhirnnya dapat menjadikan seseorang kagum diri. Rasulullah saw bersabda, "Wajib atas orang Muslim untuk taat (kepada pemimpinnya), suka atau tidak suka, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah. Apabila seorang pemimpin memerintahkannya melakukan maksiat, maka dia tidak boleh mematuhinya." (HR Muslim)

Kagum diri dapat berakibat buruk, diantara dampak buruk tersebut adalah terjerumus ke dalam sikap ghurur (terperdaya) dan takabur. Sikap ghurur yaitu sikap meremehkan orang sedangkan takabur adalah sikap seseorang yang merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan tidak mau menghormati orang lain. Dampak buruk dari kagum diri selain bersikap ghurur dan takabur yaitu tidak mendapatkan taufik dari Allah swt. Dia tidak mendapatkan taufik dari Allah swt karena ketentuan Allah swt bahwa orang yang mendapatkan taufik adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah swt dan tidak memberikan bagian sedikitpun kepada setan di dalam hatinya. Dampak buruk lainnya yaitu orang yang kagum diri akan dibenci orang lain. Orang yang kagum diri akan dibenci Allah swt. Orang yang dibenci Allah akan dibenci penduduk langit dan bumi.
Rasulullah saw bersabda, "Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril, lalu berfirman kepadanya, 'Aku mencintai si fulan, maka hendaknya engkau mencintainya.' Maka Jibril pun mencintainya. Kemudian malaikat Jibril menyerukan kepada para penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka hendaknya engkau kalian mencintainya.' Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian hamba tersebut dicintai oleh penduduk bumi. Apabila Allah membenci seorang hamba, maka Allah memanggil malaikat Jibril dan Dia berfirman, "Sesungguhnya Aku membenci, maka hendaknya engkau membencinya. Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyerukan kepada penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah membenci si fulan, maka hendaknya kalian membencinya.' Maka penduduk langit pun membencinya. Kemudian dia dibenci oleh penduduk bumi." (HR Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang terkena penyakit kagum diri dapat dilihat dari beberapa tanda yaitu selalu memuji diri. Orang tersebut selalu memuji dan mengagungkan diri sendiri. Pada saat yang sama, ia melupakan atau pura-pura lupa terhadap firman Allah swt, "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah (Allah) yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa." (QS an-Najm: 32) Orang yang kagum diri tidak mau menerima nasihat dari orang lain, bahkan membencinya dan merasa senang jika mengetahui aib orang lain. Seorang Muslim yang terkena penyakit kagum diri harus segera bertobat dan berusaha untuk menyembukan dirinya dari penyakit hati tersebut. Cara-cara yang dapat dilakukan agar tidak terkena penyakit kagum diri, diantaranya yaitu selalu ingat hakikat diri. Orang yang kagum pada diri sendiri harus sadar bahwa nyawa merupakan anugerah Allah swt. Jika nyawa tersebut meninggalkan badannya, maka badan tersebut tidak ada harganya sama sekali. Dia harus sadar bahwa tubuhnya dibuat dari tanah yang diinjak-injak oleh manusia dan binatang, kemudian dari air mani yang hina dan akhirnya kembali lagi menjadi tanah. Masa antara awal penciptaan dan kembali menjadi tanah tersebut, setiap manusia selalu membawa kotoran di perutnya, yang jika tidak dikeluarkan dapat berakibat orang tersebut merasa sakit. Kesadaran diri ini, insya Allah akan membantu seseorang menghilangkan penyakit kagum pada diri sendiri. Sebagian ulama salaf jika merasa kagum diri akan bertanya kepada dirinya sendiri, "Apakah engkau tahu siapa saya?" Lalu dijawabnya sendiri, "Ya, saya tahu siapa engkau. Engkau hanyalah setetes air mani yang akan menjadi bangkai. Sedangkan sekarang engkau berada di antara keduanya sambil membawa kotoran di dalam perutmu." Orang yang kagum diri harus sadar hakikat dunia dan akhirat. Orang yang kagum diri selalu sadar bahwa dunia tempat menanam (beramal) untuk kebahagiaan hidup di akhirat. Dia harus sadar bahwa sekalipun umurnya panjang, dia tetap akan mati dan harta yang dimilikinya selama hidup di dunia tidak akan dibawanya. Satu-satunya 'harta' yang dibawanya adalah amal yang dia dapatkan selama hidup di dunia.
Kesadaran semacam ini akan mendorong seseorang untuk terhindar dari penyakit kagum diri. Orang yang kagum diri harus selalu ingat pada nikmat Allah swt yang diberikan kepada manusia yang besar dann mencakup segala kehidupan manusia. Allah swt berfirman, "Dan jika kamu mau menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya (karena sangat banyaknya)." (QS Ibrahim: 34)
Kesadaran ini akan mendorong seseorang merasa lemah dan merasa butuh kepada Allah swt. Mereka yang terkena penyakit kagum diri hendaknya selalu mengingat kematian.

RIYA' DAN SUM'AH
Riya' dan Sum'ah merupakan salah satu penyakit hati yang membuat seseorang ingin memperlihatkan amalnya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kehormatan, kedudukan, pujian atau hal-hal yang bersifat keduniaan dari orang lain. Jika seseorang beramal dengan tujuan untuk dilihat orang lain maka itu dinamakan riya'. Jika tidak dilihat oleh orang lain dan kemudian dia menceritakan amalnya tersebut kepada orang lain maka itu dinamakan sum'ah. Semua riya' adalah tercela sedangkan sum'ah ada yang tercela dan ada yang terpuji. Sum'ah tercela yaitu jika tujuan menceritakan amalnya kepada orang lain untuk mendapatkan penghormatan orang lain. Sedangkan sum'ah yang terpuji yaitu jika tujuan menceritakan amalnnya kepada orang lain untuk mendapatkan penghormatan Allah dan ridha-Nya.
Allah swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia ..." (QS al-Baqarah: 264)
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa memperdengarkan (amalnya), Allah pun akan memperdengarkan (keburukannya); barangsiapa memperlihatkan (amalnya), Allah pun akan memperlihatkan (keburukannya)." (HR Bukhari)
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasulullah saw menjawab, "Riya'. Allah swt berfirman, 'Apabila hamba-hamba Allah bisa saling membalas dengan amal-amal mereka pada hari kiamat, maka pergilah kamu kepada orang-orang yang pernah kamu perlihatkan amalmu di hadapan mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka.'" (HR Ahmad)
Ketika Rasulullah saw mendengar seseorang mengeraskan suaranya saat berzikir, beliau bersabda, "Sesunngguhnya dia itu banyak kembali (amalnya banyak yang kembali, tidak diterima di sisi Allah)."
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bersikap riya' diantaranya, adalah lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suka riya' dapat mempengaruhi anak untuk berbuat riya' juga. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah saw menganjurkan agar dalam memilih calon istri, sebaiknya memilih berdasarkan agamanya. Rasulullah saw bersabda, " ... Pilihlah wanita (untuk dinikahi) berdasarkan agamanya, maka kamu akan berbahagia." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
"Jika datang (melamar) kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah (terimalah) dia." (HR Turmudzi)
Seseorang bersikap riya' dapat juga disebabkan pengaruh dari pergaulan dengan teman-temannya yang beramal hanya untuk pamer. Oleh karena itu, dalam memilih teman, setiap muslim harus bersikap selektif dan mencari teman yang baik, yang menghormati dan mengamalkan ajaran agamanya. Seseorang yang tidak mengenal Allah swt dengan baik, dapat menyebabkan seseorang bersikap riya'. Seseorang yang mengenal Allah swt dengan baik, tentu tidak akan bersikap riya' karena dia yakin sikap riya' tidak akan memberikan manfaat apapun kepada dirinya karena dia mengetahui bahwa orang lain tidak dapat memberikan mudarat atau maslahat kepada dirinya. Seseorang bersikap riya' dapat juga karena menginginkan harta. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa berperang karena menginginkan zakat onta, maka baginya apa yang dia niatkan." (HR an-Nasa'i dan Ahmad)
Tanda-tanda orang yang bersikap riya' yaitu rajin dan melipatgandakan amal saleh jika mendapat pujian atau berada di antara orang banyak tetapi malas dan enggan beramal saleh jika tidak mendapat pujian atau tidak ada orang lain yang melihatnya. Termasuk orang yang riya' yaitu tidak melanggar larangan Allah swt jika berada di antara orang banyak dan melanggarnya ketika sedang sendirian. Rasulullah saw bersabda, "Sungguh saya mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal baik yang banyak, bagai salju menutupi gunung. Tetapi Allah menjadikan amal-amal tersebut seperti debu yang berterbangan. Padahal mereka itu adalah saudara-saudaramu dan kulit mereka juga seperti kulitmu. Mereka beribadah di waktu malam sebagaimana yang kamu lakukan juga. Tetapi mereka melanggar larangan-larangan Allah ketika sedang sendirian." (HR Ibnu Majah)
Sikap riya' yang dilakukan dapat berakibat buruk bagi yang melakukannya, diantaranya ialah tertutupnya hidayah dan taufik Allah swt. Firman Allah, Maka tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Dia tidak akan memberikan hidayah kepada kaum yang fasik. (QS as-Shaf: 5)
Seseorang yang riya' - dimana ia melakukan amal saleh karena mencari keridhaan orang banyak dan mengharapkan imbalan materi – terkadang harapan dan keinginannya tidak terwujud karena tidak sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Ketika harapan dan keinginannya tidak terwujud, maka terasa sempitlah kehidupannya dan gelisahlah hatinya. Sebab, dia tidak mendapatkan ridha Allah dan tidak memperoleh hasil yang diharapkan dari orang banyak. Allah berfirman, Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha: 124)
Sikap riya' akan menghilangkan rasa hormat dari masyarakat kepada dirinya. Hal ini karena Allah akan mencabut rasa hormat masyarakat kepada seseorang yang bersikap riya'. Allah berfirman, " ... Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memuliakannya ... " (QS al-Hajj: 18)
Dampak buruk lainnya dari sikap riya' yaitu orang yang melakukannya akan mendapat malu di dunia dan di akhirat. Rasulullah saw bersabda kepada 'Abdullah bin 'Amar bin 'Ash yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang jihad dan perang, "Hai 'Abdullah bin 'Amar, jika engkau berperang dalam keadaan sabar dan mengharap pahala Allah, maka Allah akan membangkitkanmu (di akhirat) dalam keadaan sabar dan mendapat pahala Allah. Tetapi jika engkau berperang karena ingin pamer dan membanggakan diri, maka Allah akan membangkitkanmu dalam keadaan pamer dan membanggakan diri. Hai 'Abdullah bin 'Amar, dalam keadaan bagaimana kamu berperang atau gugur, dalam keadaan seperti itu pula Allah membangkitkanmu." (HR Abu Daud)
Rasulullah saw juga bersabda, "Barangsiapa memperdengarkan (kebaikannya), maka Allah juga akan memperdengarkan (keburukannya)." (HR Bukhari)

Seseorang yang riya' akan membatalkan amal ibadahnya karena orang yang riya' orientasinya dalam beribadah adalah kepada makhluk bukan kepada Khaliq. Allah swt telah mengisyaratkan dampak buruk ini dalam firman-Nya, " ... Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud pamer (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa': 142)
Seseorang yang menyia-nyiakan amal ibadahnya dengan melakukan riya', maka balasan yang dia peroleh di akhirat adalah siksaan yang berat. Rasulullah saw bersabda, "Orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan ke pengadilan, lalu diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya disebut pemberani dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka. Selanjutnya dihadapkan orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur'an. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur'an karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau belajar supaya disebut sebagai orang alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut sebagai qari' (ahli baca) dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka. Sesudah itu dihadapkan orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Diajukan kepadanya nikmat yang telah diperolehnya dan dia pun mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan hartamu itu?' Ia menjawab, 'Aku tidak melewatkan satu jalan pun yang Engkau sukai seseorang menginfakkan harta di dalamnya kecuali aku melakukannya karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesunggguhnya engkau melakukan itu supaya disebut pemurah dan sebutan itu telah engkau dapatkan.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka." (HR Muslim dan Nasa'i)
Rasulullah saw bersabda, "Kelak di hari kiamat, seseorang akan dihadapkan dan dilemparkan ke neraka. Maka berserakanlah isi perutnya keluar, lalu ia diputar-putar dengan itu seperti keledai memutari kilangan. Kemudian penduduk neraka menghampirinya dan bertanya, 'Wahai fulan, apa dosamu? Bukankah engkau suka beramar makruf nahi munkar?' Ia menjawab, 'Ya, aku memang menyuruh yang makruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya; aku melarang yang munkar, tetapi aku sendiri melanggarnya." (HR Muslim)
Penyakit riya' ini dapat dihilangkan atau dihindari dengan cara yaitu selalu ingat akan dampak buruk penyakit ini bagi kehidupan di dunia dan di akhirat; Menjauhkan diri bergaul dengan orang-orang yang suka riya' dan bergaul dengan orang-orang yang benar dan ikhlas dalam beribadah; Mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya. Mengenal Allah swt dapat dilakukan dengan menjalani hidup di dunia ini berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Nabi saw; Kesungguhan hati untuk menghilangkan tindakan-tindakan yang mengarah pada sikap riya'. Misalnya cinta kedudukan atau kehormatan, suka mendapat pujian dari orang lain dan sebagainya; Bekerja sama dalam segala urusan;
Mengikuti adab (etika) Islam dalam pergaulan. Dengan demikian, tidak berlebihan dalam memberikan pujian kepada orang lain dan tidak meremehkan orang lain; Berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Barangsiapa berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt - dan dia berada dalam kebenaran - maka Allah swt akan memantapkan hati dan menolong hamba-Nya; Menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini berjalan sesuai dengan takdir Allah swt. Allah swt berfirman, "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS al-Hadid: 22)
Sesungguhnya makhluk sekuat dan sekuasa apa pun, dia tidak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya atau orang lain. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya makhluk-makhluk yang kamu seru selain Allah itu adalah hamba-hamba yang serupa dengan kamu. Maka serulah makhluk-makhluk itu dan biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS al-A'raf: 19)
"Sesungguhnya mereka (Bani Israil) sekali-kali tidak akan dapat menjauhkan (menolak)-mu dari siksaan Allah ... " (QS al-Jatsiah: 19)

MENGIKUTI HAWA NAFSU
Menurut bahasa "mengikuti hawa nafsu" berarti mengikuti sesuatu yang disenangi atau dihasrati oleh jiwa. Sedangkan arti "mengikuti hawa nafsu" menurut menurut istilah yaitu mengikuti sesuatu yang disenangi atau dihasrati oleh jiwa tanpa didahului dengan petimbangan akal sehat, tanpa memperhatikan hukum syariat dan tanpa mempertimbangkan akibat yang akan muncul. Pandangan Islam mengenai "mengikuti hawa nafsu" terbagi menjadi dua yaitu buruk dan baik. "Mengikuti hawa nafsu" yang buruk yaitu seperi yang dimaksudkan dalam firman Allah swt, " ... Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah sedikit pun ... " (QS al-Qashash: 50)
Rasulullah saw bersabda, "Orang yang kuat (cerdas) adalah orang yang dapat mengendalikan nafsunya dan yang beramal untuk kepentingan hidup setelah mati. Sedangkan orang yang lemah (bodoh) adalah orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya dan hanya dapat mengharapkan kebaikan Allah." (HR Turmudzi)
"Mengikuti hawa nafsu" yang baik dalam pandangan Islam yaitu yang sesuai dengan syariat dan petunjuk Allah swt. Rasulullah saw bersabda, "Tidak sempurna iman seorang mukmin hingga keinginan hawa nafsunya mengikuti apa (wahyu) yang aku datangkan untuk kalian." (HR Abu Dawud)
Seseorang mengikuti hawa nafsunya disebabkan oleh beberapa hal diantaranya tidak terbiasa melatih diri menahan hawa nafsu sejak kecil. Kedua orangtua memanjakannya dengan memberikan materi yang berlebihan, melebihi apa yang dibutuhkan. Walaupun pemberian tersebut karena kasih sayang orang tua kepada anaknya, namun kasih sayang dengan memberikan materi secara berlebihan tidaklah sesuai dengan fitrah dan tuntatan syariat. Keinginan hati yang termasuk mubah - tidak berdosa bila dikerjakan akan menjadi dosa jika pemenuhan keinginan hati itu akan menyebabkan yang bersangkutan lengah dari jihad di jalan Allah swt. Firman Allah swt, "Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggalmu yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik'." (QS at-Taubah: 24)
Berdasarkan ayat di atas, kecintaan kita terhadap istri, anak, harta, perniagaan dan lain-lain tidak boleh berlebihan hingga melebihi kecintaan kita terhadap Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah. Bergaul dengan orang-orang yang mengumbar hawa nafsunya akan membuat seseorang terpengaruh untuk mengikutinya. Faktor lainnya yang dapat membuat seseorang mengumbar hawa nafsunya adalah kurangnya mengenal Allah dan akhirat. Allah swt berfirman, "Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan tersebut. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah si penyembah dan amat lemahlah yang disembahnya. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa". (QS al-Hajj: 73-74)
Dampak buruk akibat mengikuti hawa nafsu diantaranya ialah mengurangi ketaatan kita, mengeraskan hati dan akhirnya mematikan hati. Jika hati telah mati, padahal ia merupakan esensi manusia, maka apa lagi yang tersisa bagi manusia? Tiada lagi yang tersisa bagi manusia kecuali hanya seonggok tulang dan daging. Rasulullah saw bersabda, "Sesunguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan hartamu. Dia hanya melihat hati dan amal perbuatanmu." (HR Muslim)
Orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya akan meremehkan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagai orang yang duduk di bawah gunung yang ditakutinya akan jatuh menimpanya. Sedangkan orang durhaka melihat dosa-dosanya bagai melihat seekor lalat lewat di depan hidungnya ... " (HR Muslim)
Dampak lainnya dari mengikuti hawa nafsunys yaitu tidak mendapat hidayah ke jalan yang lurus. Allah swt berfirman, "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat? Mengapa engkau tidak mengambil pelajaran." (QS al-Jatsiyah: 23)
Cara-cara untuk menyembuhkan penyakit mengikuti hawa nafsu diantaranya selalu mengingat bahwa kebahagiaan dan kesenangan hanya diperoleh dengan mengikuti syariat Allah, bukan mengikuti semua keinginan hati. Allah swt berfirman, " ... Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS Thaha: 123)
" ... Maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati." (QS al-Baqarah: 38)
Cara lain untuk tidak mengikuti hawa nafsu adalah meminta pertolongan kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan menolong orang yang berlindung dan memohon pertolongan kepada-Nya. Mahabenar Allah yang berfirman dalam hadits qudsi, "Wahai hamba-Ku, kamu semua adalah orang-orang yang tersesat, kecuali orang yang Aku beri petunjuk. Mintalah petunjuk kepadaku, niscaya kamu akan Aku beri petunjuk." (HR Muslim)

MEREMEHKAN AMALAN SEHARI - HARI
Pengertian meremehkan amalan sehari-hari adalah melalaikan atau mengabaikan tugas-tugas atau kewajiban-kewajiban yang seharusnya dipelihara, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Tugas atau kewajiban yang dimaksud disini adalah tugas-tugas ibadah di waktu siang atau malam, yang seharusnya dipelihara oleh setiap muslim. Misalnya menunda-nunda shalat wajib hingga habis waktunya, mengabaikan shalat sunah rawatib, shalat malam, shalat witir, menyelesaikan bacaan al-Qur'an 30 juz lebih dari tiga bulan, tidak berdoa, tidak beristighfar, tidak berzikir, tidak melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, tidak perduli dengan keadaan di masyarakat dan tidak melakukan amalan-amalan sunah lainnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang meremehkan amalan sehari-hari yaitu ternoda oleh maksiat. Seorang muslim yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan maksiat, walaupun itu berupa dosa-dosa kecil akan menyebabkan seseorang meremehkan amalan sehari-hari. Allah swt berfirman, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS asy-Syura: 30)
Rasulullah saw bersabda, "Seorang hamba tidak akan tertimpa bencana, besar atau kecil, kecuali karena suatu kesalahan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan itu." Rasulullah saw kemudian membacakan ayat, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu ... " (HR Turmudzi)
Hasan Bashri pernah ditanya oleh seseorang, "Wahai Abu Sa'id, saya pernah tidur semalaman tanpa terjaga (di waktu malam). Padahal saya ingin beribadah di waktu malam dan saya telah mempersiapkan diri dengan bersuci. Apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya ini sehingga saya tidak dapat bangun?" Hasan Bashri menjawab, "Kesalahan-kesalahanmu telah membelenggumu." Al-Hafidz Ibn al-Qayyim menerangkan bagaimana perbuatan maksiat berakibat pada kelalaian dalam beribadah, "Diantara dampak buruk kemaksiatan adalah tertutupnya atau terhalangnya ketaatan. Sekiranya tidak ada sanksi (hukuman) bagi suatu kesalahan kecuali menghalangi pelakunya untuk berbuat suatu ketaatan (ibadah), maka itu cukup sebagai balasan. Dan kesalahan tersebut juga akan menghalangi jalan ketaatan lain yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Maka banyak sekali ketaatan yang menjadi terputus (terlewatkan begitu saja) akibat kesalahan tersebut, di mana setiap ketaatan itu lebih baik baginya daripada dunia dan isinya. Ini seperti seseorang yang makan sesuap makanan yang mengakibatkan dirinya sakit, sehingga ia tidak dapat memakan makanan lainnya yang lebih baik atau lebih enak daripada sesuap makanan yang menyebabkannya sakit."
Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang melalaikan amalan sehari-hari yaitu berlebihan dalam perkara mubah seperti makan, minum, pakaian, kendaraan dan lain-lain. Hal ini karena berlebihan dalam perkara mubah menyebabkan seseorang merasa malas untuk melakukan ibadah-ibadah sunah. Seseorang yang tidak mengetahui nilai suatu kenikmatan dan cara melestarikan kenikmatan tersebut akan membuat ia meremehkan amalan sehari-hari. Nikmat Allah swt atas hamba-Nya, baik yang lahir maupun yang batin, yang diketahui maupun yang tidak diketahui sangat banyak, hingga tidak dapat dihitung jumlahnya. Allah swt berfirman, "Dan jika menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak bisa menentukan jumlahnya ... " (QS an-Nahl: 18)
Cara melestarikan nikmat Allah swt adalah dengan mensyukurinya. Allah swt berfirman, " ... Sungguh jika kamu bersyukur (atas nikmat-Ku), niscaya akan Aku tambah kenikmatan lagi untukmu ... " (QS Ibrahim: 7)
Salah satu bentuk bersyukur atas nikmat Allah swt ialah dengan tekun mengamalkan ibadah sehari-hari. Allah swt berfirman, "Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, jangan mengingkari (nikmat-nikmat)-Ku." (QS al-Baqarah: 152)
Sesungguhnya manusia dengan upaya dan kekuatannya adalah lemah dan hanya dengan kekuatan Allah-lah ia menjadi kuat. Setiap manusia membutuhkan pertolongan Allah swt agar sukses dalam melaksanakan tugas-tugasnya di bumi ini. Dan tekun melaksanakan ibadah sehari-hari adalah cara untuk mendapatkan pertolongan Allah. Allah swt berfirman, "Dan orang-orang yang berjihad untuk Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami kepada mereka. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik." (QS al-'Ankabut: 69)
Sebuah hadits qudsi yang terkenal menyebutkan, " ... Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, Aku menjadi penglihatannya ketika ia melihat, Aku menjadi tangannya ketika ia memegang sesuatu dan Aku menjadi kakinya ketika ia berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku memberinya. Jika ia berlindung kepada-Ku, Aku melindunginya ... " (HR Bukhari dan Ahmad)
Amalan ibadah sehari-hari merupakan penyebab ketenangan hati dan kedamaian jiwa. Allah swt berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati merasa tenang." (QS ar-Ra'd: 28)

Tidak adanya pengetahuan yang benar mengenai manfaat yang akan diperoleh seseorang dengan melakukan amalan sehari-hari dapat membuat seseorang melalaikan amalan sehari-hari. Manfaat yang diperoleh dengan melakukan amalan sehari-hari diantaranya yaitu selamat dari kesulitan dan siksaan Allah swt kelak di akhirat. Allah swt berfirman, "Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa karena kemenangan mereka. Mereka tidak disentuh oleh siksa neraka dan mereka tidak berduka cita." (QS az-Zumar: 61)
Manfaat lainnya adalah mendapatkan nikmat surga yang isinya belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, belum pernah terlintas dalam hati dan pikiran manusia. Dan di atas semua kenikmatan itu adalah melihat Allah swt. Allah swt berfirman, "Allah menjanjikan kepada orang- orang mukmin, laki-laki dan perempuan, surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya dan mendapat tempat yang bagus di surga 'Adn. Keridaan Allah adalah lebih besar. Itu adalah keberuntungan yang besar." (QS at-Taubah: 72)
Faktor yang dapat melalaikan seseorang dari melakukan amalan ibadah sehari- hari adalah lupa akan mati dan kehidupan setelah mati. Allah swt berfirman, "Setiap jiwa akan merasakan mati ... " (QS Ali Imran: 185)
Sustu ketika Rasulullah saw masuk ke tempat shalat dan beliau melihat orang- orang seakan-akan tertawa terbahak-bahak, maka beliau bersabda, "Jika kamu banyak mengingat hal yang menghancurkan kelezatan dunia, niscaya kamu tidak akan lagi melakukan apa yang aku lihat ini. Itulah mati. Maka banyak-banyaklah mengingat hal yang menghancurkan kelezatan dunia itu, yakni mati. Karena sesungguhnya tak sehari pun datang melainkan kubur akan berkata, 'Saya adalah rumah yang asing, saya adalah rumah yang hanya untuk satu orang, saya adalah rumah debu dan saya adalah rumah yang berulat ...'" (HR Turmudzi, an-Nasa'i, Ibn Majah dan Ahmad)
Seseorang yang mengira bahwa amal ibadahnya telah sempurna dapat melalaikan dirinya dari melakukan amalan sehari-hari. Hal ini karena ia lupa bahwa meskipun ia telah melakukan ibadah dan beramal saleh siang dan malam, ia tidak akan mampu membalas nikmat Allah swt yang terendah sekalipun. Seseorang yang mempunyai beban dan kewajiban yang banyak, biasanya akan meremehkan amalan sehari-hari dengan alasan tidak ada waktu. Ia lupa bahwa waktu, kemampuan dan kesempatan adalah milik Allah swt dan berada di dalam kekuasaan-Nya. Jika seorang hamba merasa senang berbuat taat dan selalu mengingat Allah, niscaya Allah akan memberikannya keberkahan waktu, keinginan yang kuat dan ketajaman dalam berpendapat. Seseorang yang menunda-nunda beribadah akan menyebabkan yang bersangkutan melalaikan amalan sehari-hari. Rasulullah saw bersabda, "Bersegeralah kamu mengambil manfaat dari tujuh kesempatan dengan mengerjakan amal saleh. Apakah kamu akan menundanya hingga kamu menjadi orang miskin yang terlupakan, orang kaya yang aniaya, menderita sakit yang membinasakan, orang tua yang jarang mengingat Allah, meninggal dunia, kedatangan dajjal atau kedatangan hari kiamat." (HR Turmudzi)
Rasulullah saw juga telah bersabda, "Ambillah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, masa longgarmu sebelum datang masa sibukmu dan hidupmu sebelum datang matimu."
(HR Ibn Abi Syaibah)
Seseorang yang meremehkan amalan sehari-hari dapat berkibat buruk bagi dirinya. Akibat buruk tersebut diantaranya adalah tidak takut dan malu untuk berbuat maksiat, malas untuk melaksanakan ibadah-ibadah yang telah diwajibkan, jiwanya gelisah, kehilangan wibawa dan pengaruh dari masyarakat, tertutup dari pertolongan dan taufik Allah swt. Allah swt berfirman, "Barangsiapa berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur'an),
maka Kami adakan bagi mereka setan (yang menyesatkan). Setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertai mereka. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalanginya dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk." (QS az-Zukhruf: 36-37)
Rasulullah saw bersabda, "Umat manusia akan mengerumuni kalian seperti orang-orang mengerumuni hidangan makanan." Seorang sahabat bertanya, "Apakah karena kami sedikit pada masa itu?" Nabi saw menjawab, "Tidak. Bahkan jumlah kalian banyak pada masa itu, tetapi kalian seperti buih lautan. Allah akan mencabut rasa takut musuh kalian terhadap kalian dan melemparkan kelemahan dalam hari kalian." Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah saw, kelemahan yang bagaimana?" Nabi saw menjawab, "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Daud dan Ahmad)
Rasulullah saw juga telah bersabda kepada Ibn 'Abbas, "Hai nak, saya beritahukan kepadamu beberapa kalimat. Peliharalah (hubungan dengan) Allah, niscaya Dia akan memeliharamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah, niscaya kamu akan mendapati keagungan-Nya. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah; apabila kamu memohon perlindungan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika suatu kaum bersepakat memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka itu tak akan memberikan manfaat kepadamu kecuali karena sudah ditetapkan oleh Allah. Dan jika mereka bersepakat untuk membahayakanmu dengan sesuatu, maka mereka tak bisa membahayakanmu kecuali karena sudah ditetapkan oleh Allah." (HR Turmudzi dan Ahmad)

UZLAH
Arti Uzlah secara istilah yaitu mengutamakan hidup menyendiri daripada hidup berjamaah. Orang yang beruzlah merasa cukup mengamalkan ajaran Islam untuk dirinya sendiri, tanpa memperdulikan kondisi orang lain. Atau dia menjalankan ajaran Islam dan berjuang menegakkan Islam di kalangan manusia, tetapi sendirian, tidak melakukan kontak dan saling menolong dengan pejuang Islam lainnya. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan uzlah diantaranya berhenti pada nas-nas Al-Qur'an dan hadits yang menganjurkan beruzlah dan mengabaikan nas-nas lain yang menganjurkan hidup berjamaah.
Rasulullah saw bersabda, "Akan datang suatu masa, di mana sebaik-baik harta orang Islam adalah kambing. Dia menggembala di puncak-puncak bukit dan di tempat-tempat air hujan berkumpul (lembah) untuk menjaga agamanya dari bencana." (HR Bukhari)
Dalam suatu riwayat, seseorang bertanya kepada Rasulullah saw, "Siapakah orang yang paling baik amalnya?" Rasulullah saw menjawab, "Orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah." "Kemudian siapa lagi?" tanya orang tersebut. "Orang yang mengasingkan diri ke puncak-puncak bukit untuk menyembah Tuhannya, supaya ia terhindar dari kejahatan." jawab Rasulullah saw. (HR Muslim)
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, "Termasuk kehidupan yang terbaik adalah seseorang yang menyiapkan hidupnya untuk berjihad di jalan Allah. Dia segera melompat ke punggung kuda ketika mendengar terompet perang sambil menunggu komando. Dia segera memacu kudanya ke medan perang mencari kematian (syahid) yang didambakannya. Atau, seseorang yang hidup dengan seekor kambing yang digembalakannya di puncak-puncak bukit dan di lembah-lembah. Dengan hidup sederhana, dia menunaikan shalat, membayar zakat, beribadah kepada Tuhan terus-menerus sampai dia meninggal dan tidak pernah merugikan umat manusia ... " (HR Muslim).
Sedangkan nas-nas yang menganjurkan hidup berjamaah diantaranya yaitu firman Allah swt, " ... Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya." (QS al-Maidah: 2)
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (QS ash-Shaf: 4)
Rasulullah saw bersabda, "Jauhilah hidup menyendiri. Kamu wajib berjamaah karena setan bersama orang yang menyendiri. Setan menemaninya dari jauh. Barangsiapa menghendaki surga, dia harus selalu berjamaah." (HR Turmudzi)
Orang yang hanya memperhatikan nas-nas yang menganjurkan beruzlah dan mengabaikan nas-nas yang menganjurkan hidup berjamaah dapat terkena penyakit beruzlah atau hidup menyendiri. Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang beruzlah karena ia melihat secara lahiriah perilaku kaum salaf yang lebih memilih hidup menyendiri daripada hidup berjamaah. Kaum salaf hidup beruzlah karena belum mempunyai cara untuk melakukan perbaikan, sementara kaumnya masih tetap pada kekafirannya. Karena takut terkena fitnah, dia pun menjauhkan diri dari masyarakat untuk sementara. Motivasi yang mendorong kaum salaf untuk hidup beruzlah adalah untuk memelihara tangan-tangan mereka agar tidak terjerumus dalam pertumpahan darah akibat konflik diantara para sahabat sendiri, yang tidak, yang tidak diketahui kelompok mana yang benar dan mana yang salah. Bila orang hanya melihat uzlah kaum salaf tanpa melihat situasi dan kondisi yang terjadi pada waktu itu, maka akan muncul keinginan untuk beruzlah atau hidup menjauh dari jamaah muslimin, walaupun sebenarnya situasi dan kondisi tidak membolehkan dia beruzlah. Menganggap hidup berjamaah akan menghilangkan kepribadian dapat menjadikan seseorang hidup beruzlah. Kepribadiannya akan lebur dalam jamaah. Yang tinggal pada dirinya hanyalah jiwa yang tidak berpendirian. Bila jamaahnya baik, berarti dia menjadi baik; jika jamaahnya buruk maka dia menjadi buruk pula. Dia lupa bahwa jalan Islam berada diantara hidup menyendiri dan berjamaah. Jalan Islam berdiri di atas ajakan kepada setiap muslim untuk hidup berjamaah dan setiap orang juga tetap dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dilakukan selama hidup di dunia. Allah berfirman, "Tiap-tiap diri bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya." (QS al-Muddatstsir: 38)
"Dan takutlah kamu kepada suatu hari di mana seseorang tidak dapat menggantikan orang lain sedikitpun ... " (QS al-Baqarah: 123)
Rasulullah saw bersabda, "Wajib bagi seorang muslim untuk mengajak dengan syarat dan adab yang baik - kepada setiap orang untuk masuk ke dalam jamaah agar menjadi tinggi dan menjadi luhur kedudukan agama Allah." Ada yang bertanya, "Untuk siapa?" Rasulullah saw menjawab, "Untuk Allah, Kitab-Nya (Al-Qur'an), Rasul-Nya dan umat Islam semuanya." (HR Abu Dawud)
Riwayat lain menyebutkan, "Seorang mukmin merupakan cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat aib pada saudaranya, dia harus meluruskannya (memperbaikinya)." (HR Abu Dawud)

Seseorang yang memilih beruzlah (menyendiri) dapat pula disebabkan ia tidak mau menanggung beban yang akan muncul bila hidup berjamaah. Jamaah memang terdiri dari banyak individu. Pengaturan urusan kehidupan mereka berlangsung dari dini hari hingga malam, bahkan terkadang tidak ada habisnya. Selain itu, biasanya kepentingan jamaah berbeda dengan kepentingan individu. Jika seseorang tidak sadar akan hal ini, dia akan terlibat total dalam jamaah, hingga dia menelantarkan ibadahnya, pendidikan anak-anaknya dan keluarganya. Akhirnya, hawa nafsu menguasai dirinya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia akan merasa tidak kuat menangani urusan jamaahnya. Ketika itulah dia akan mencari jalan keluar dengan cara beruzlah. Alasan seseorang beruzlah dapat pula disebabkan karena dia merasa keburukan dan kerusakan sudah merajalela dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim. Tanggung jawab sebagai seorang muslim adalah berusaha untuk meluruskannya dengan menggunakan metode, cara dan peralatan atau prasarana yang tepat. Janganlah seseorang beruzlah kecuali jika kerusakan dan keburukan tersebut sudah sangat parah di masyarakat. Bila sudah demikian, lebih baik dia beruzlah, jika dia takut terkena fitnah. Rasulullah saw bersabda, "Perumpamaan orang yang mematuhi larangan Tuhan dari yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang mengadakan undian di atas kapal. Sebagian mereka mendapat tempat di bagian atas kapal dan sebagian yang lain mendapat tempat di bawahnya. Orang-orang yang mendapat tempat di bawah, jika ingin mengambil air minum harus melalui orang yang berada di atas. Mereka yang berada di bawah kemudian berpikir untuk membuat sebuah lubang air agar tidak mengganggu mereka yang di atas. Jika kelompok yang di atas membiarkan maksud mereka yang berada di bawah, tentulah seluruh orang yang berada di atas kapal tersebut akan binasa. Sebaliknya, jika kelompok yang berada di atas melarang, maka selamatlah mereka semua." (HR Bukhari)
Kehidupan mengasingkan diri atau beruzlah mempunyai dampak yang membahayakan dan mempunyai akibat yang buruk. Dampak buruk tersebut diantaranya ketidaktahuan yang bersangkutan akan kepribadiannya sendiri. Hal ini karena seseorang tidak mungkin mengetahui pribadinya sendiri dengan baik tanpa bantuan orang lain. Dia perlu orang lain untuk menilai pribadinya. Seseorang dapat mengetahui apakah dirinya termasuk orang yang egois ataukah mempunyai rasa kesetiakawanan yang tinggi apabila dia bergaul dengan orang lain. Contohnya, jika dia berjumpa dengan orang yang membutuhkan bantuannya, dia dapat melihat dirinya. Bila hatinya keras dan tidak mau memberikan bantuan, berarti dia egois. Sebaliknya, bila hatinya menjadi lunak dan memberikan bantuan, berarti di mempunyai rasa kesetikawanan yang tinggi. Begitu pula, seseorang tidak mungkin mengetahui apakah dirinya lemah lembut dan sabar ataukah kasar dan tergesa-gesa tanpa bergaul dengan orang lain. Jadi, sesungguhnya jalan agar seseorang dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya dan dapat berusaha memperbaiki kelemahannya tersebut adalah dengan hidup berjamaah.
Rasulullah saw bersabda, "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu kecacatan pada diri saudaranya, dia harus memperbaikinya." (HR Bukhari dan Abu Dawud)
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memberikan teman yang baik. Jika dia lupa, temannya mengingatkannya; jika dia ingat, temannya mengawasinya." (HR Ahmad)
Seseorang yang hidup beruzlah tidak akan mempunyai teman yang akan mengingatkannya bila suatu saat dia melakukan suatu kesalahan.
Cara-cara menghindari uzlah yaitu memahami dengan sebaik-baiknya hubungan antara teks-teks yang menganjurkan uzlah dan teks-teks yang menganjurkan bercampur baur dengan masyarakat dan mewajibkan berjamaah. Karena, hidup bermasyarakat merupakan asal (dasar), sedangkan hidup beruzlah merupakan perkara khusus yang dilakukan hanya dalam keadaan darurat, misalnya di waktu tidak ada satupun di kalangan masyarakat yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Menggunakan metode Islam yang memadukan kehidupan individual dan kolektif. Ini akan mendorong seseorang untuk selalu hidup bermasyarakat dan pada waktu yang sama memperhatikan kepentingan pribadinya.
Mengikuti dengan sebenar-benarnya jalan yang ditempuh Rasulullah saw dalam menyebarkan dakwah dan mendirikan masyarakat yang Islami. Memperhatikan kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita. Kehidupan makhluk-makhluk tersebut satu dengan lainnya saling membantu dan bekerja sama. Sekelompok lebah bekerja sama dalam membangun, membersihkan dan melindungi rumahnya dari serangan musuh. Mereka bekerja sama dalam mencari madu bunga. Apabila makhluk-makhluk tersebut dapat dan selalu bekerja sama dalam kelompoknya, maka kita sebagai manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah swt dengan akal, kebebasan berpikir dan kebebasan berkehendak serta dijadikan pemimpin di alam ini seharusnya dapat lebih baik dalam hidup bermasyarakat.

LEMAH PENDIRIAN
Lemah pendirian adalah lalai dan tidak sungguh-sungguh dalam memegang sesuatu atau tidak memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslim yang baik. Padahal, ia sudah berikrar bahwa Allah swt Tuhannya, Islam agamanya dan Muhammad nabinya. Bahkan, ia telah berikrar rela masuk dalam barisanpara pejuang yang membela agama Allah swt. Tanda-tanda seseorang lemah pendirian diantaranya yaitu tidak berhati-hati dalam berkata dan tidak menepati janji, mengeluarkan fatwa atau mengaji suatu hukum sebelum melakukan penelitian secara seksama, tidak menghormati etika perbedaan pendapat, mudah terpengaruh oleh isu, tidak taat pada pemimpin (kecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan hawa nafsunya), tidak memperhatikan etika pergaulan, tidak mau berkorban dengan jiwa dan harta demi agama Allah, tidak berhati-hati dalam segala tindakan, tidak membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, tidak sabar dalam menunggu kesuksesan, berijtihad dalam hal-hal yang tidak boleh diijtihadi, mudah terpengaruh godaan dunia dan cepat putus asa dalam menghadapi musibah, tidak memperhatikan hak-hak sesama muslim dan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang lemah pendirian diantaranya lemah iman. Iman merupakan sumber kekuatan untuk melakukan amal saleh dan selalu memotivasi seseorang untuk teguh pendirian. Rasulullah saw bersabda, "Iman di hati kalian akan usang seperti baju kalian. Maka hendaknya kalian memohon kepada Allah agar Dia memperbaharui iman kalian." Para sahabat bertanya, "Bagaimana cara memperbaharui iman kami?" Rasulullah saw menjawab, "Perbanyaklah membaca la ilaha illallah (tiada tuhan selain Allah)." (HR Ahmad)
Cinta kepada harta, anak, jabatan dan hal-hal yang berhubungan dengan dunia secara berlebihan membuat seseorang tidak teguh dalam berpendirian. Rasulullah saw bersabda, " ... Demi Allah, yang saya khawatirkan pada kalian bukanlah kemiskinan, tetapi kekayaan, sebagaimana yang dialami oleh umat sebelum kalian. Kalian berlomba-lomba mendapatkan kekayaan seperti mereka dan kalian binasa sebagaimana mereka." (HR Bukhari dan Muslim)
"Dalam urusan dunia, hendaknya kalian melihat orang yang lebih rendah. Hal itu membuat kalian bersyukur pada nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian." (HR Muslim)
Tidak sabar dalam menghadapi ujian dan musibah dapat menyebabkan seseorang lemah pendirian. Allah swt berfirman, "Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang, apabila ditimpa musibah, mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ialihi raji'un.' Mereka itulah yang akan mendapatkan ampunan dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS al-Baqarah: 155-157)
Rasulullah saw bersabda, "Allah akan menguji kalian dengan cobaan seperti halnya kalian menguji emas dengan api. Maka sebagian dari kaliankeluar seperti emas murni. Dialah orang yang diselamatkan Allah dari keburukan. Sebagian lagi keluar bagaikan emas hitam. Dialah orang yang mendapat fitnah." (HR al-Hakim)
"Tidak ada sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa musibah, kesedihan, gangguan sampai onak duri, melainkan dengan itu ia akan mendapatkan ampunan Allah dari segala kesalahannya." (HR Bukhari dan Muslim)
Faktor lainnya yang membuat seseorang lemah pendirian yaitu terpengaruh oleh bisikan setan. Allah swt berfirman, "Wahai anak keturunan Adam, janganlah sekali-kali kamu tertipu oleh bujukan setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya ... " (QS al-A'raf: 27)
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya setan selalu mengintai setiap langkah manusia. Setan mengintainya di waktu ia hendak masuk Islam, lalu berbisik, 'Apakah kamu hendak masuk Islam dan meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?' Tetapi manusia tadi tidak mengikutinya dan tetap masuk Islam. Lalu setan mengintai manusia di saat ia berhijrah sambil berbisik, 'Apakah kamu akan berhijrah dan meninggalkan kampung halamanmu? Sesungguhnya orang yang berhijrah bagaikan kuda yang berada dalam perjalanan jauh.' Tetapi manusia tadi tidak bergeming dan tetap berhijrah. Lalu setan mengintai manusia di saat ia berjihad sambil berbisik, 'Apakah kamu hendak berjihad dengan mengorbankan jiwa dan harta, berperang dan terbunuh, padahal kamu bisa menikahi wanita dan bisa membelanjakan hartamu?' Manusia tadi tidak bergeming dan tetap berjihad. Maka barangsiapa dapat melakukannya sebagaimana manusia tadi, ia - sesuai dengan janji Allah - akan masuk surga. Barangsiapa mati terbunuh karena membela Allah, ia akan masuk surga. Barangsiapa tenggelam karena membela Allah, ia akan masuk surga. Dan barangsiapa terlempar dari hewan tunggangannya (dan mati) karena membela Allah, ia akan masuk surga pula." (HR an-Nasa'i)

Penyakit lemah pendirian ini dapat diobati dengan beberapa cara diantaranya dengan selalu introspeksi diri terhadap kelemahan dan kesalahan diri sendiri dan memperbaikinya dengan cara bertobat dari kesalahan serta menutupnya dengan melakukan amal saleh, seperti berpuasa dan memperbanyak amalan-amalan sunah. Nikmat yang telah Allah swt berikan seperti nikmat waktu, harta, ilmu, usia muda dan nikmat-nikmat lainnya haruslah dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw bersabda, "Bersegeralah kamu memanfaatkan tujuh kesempatan dengan mengerjakan amal-amal saleh. Apakah kamu akan menunda-nunda hingga kamu menjadi orang miskin yang terlupakan, menjadi orang kaya yang lalim, menderita sakit yang membinasakan, menjadi orang tua yang jarang mengingat Allah, meninggal dunia, kedatangan dajjal atau kedatangan hari kiamat? Hari kiamat itu paling dahsyat dan paling pahit." (HR Turmudzi)
Berbuat baik kepada kedua orang tua dan memandang keduanya dengan penuh hormat dan sopan. Sesungguhnya bila Allah berkehendak terhadap sesuatu, niscaya sesuatu itu akan terjadi. Jika Dia tidak berkehendak terhadap sesuatu, niscaya sesuatu itu tidak akan terjadi. Dan sungguh seseorang tidak akan mati melainkan setelah sempurna rezekinya dan telah tiba ajalnya. Mengambil sunah Nabi saw sebagai pedoman hidup. Dalam sunah Nabi saw, kita dapat melihat secara rinci kehidupan beliau saw. Kita dapat mengetahui mana yang baik untuk dikerjakan oleh seorang Muslim dan mana yang tidak baik. Beliau saw tidak pernah melanggar janji. Bahkan kepada musuh pun beliau saw selalu menepati janji dan memegang teguh janji yang telah disepakati.

AMBISI MENJADI PEMIMPIN
Ambisi menjadi pemimpin dapat diartikan sebagai cinta atau suka menjadi yang terdepan di antara orang lain. Bahkan kalau perlu, meminta dengani terus terang untuk diangkat menjadi pemimpin. Rasulullah saw bersabda, "Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan suatu jabatan kepada orang yang meminta untuk diangkat dan tidak pula kepada orang yang berharap- harap untuk diangkat." (HR Bukhari dan Muslim)
Faktor-faktor yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin diantaranya yaitu menginginkan materi duniawi. Orang yang berambisi menjadi pemimpin beranggapan bahwa jika ia menjadi pemimpin, maka ia akan mendapatkan kekayaan materi dengan jalan menyalahgunakan jabatan yang dimilikinya (korupsi). Faktor lainnya yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin adalah tidak sadarnya seseorang akan konsekuensi kelengahan seorang pemimpin. Kelengahan seorang pemimpin membuka jalan bagi kebatilan dan pendukungnya untuk menebarkan kerusakan di muka bumi, merusak tanaman dan ternak. Di akhirat nanti, pemimpin seperti itu akan dilemparkan ke dalam neraka.
Rasulullah saw bersabda, "Seorang hamba yang dipercayai oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, tetapi dia menipu rakyat, maka jika ia mati, Allah mengharamkan surga baginya." (HR Bukhari dan Muslim)
Sedangkan dampak buruk penyakit ambisi menjadi pemimpin diantaranya yaitu tertutupnya taufik dan pertolongan Allah swt. Orang yang berambisi menjadi pemimpin hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya tanpa mengharapkan pertolongan Allah swt. Padahal, sunatullah menggariskan bahwa orang-orang yang hanya mengandalkan kemampuan dan kekuatannya sendiri tanpa bantuan dan kekuatan Allah swt, hasilnya tidak akan maksimal dan tidak berkah. Rasulullah saw bersabda kepada 'Abdurrahman bin Samurah, "Wahai 'Abdurrahman, janganlah engkau meminta-minta jabatan. Jika engkau menjadi pemimpin karena permintaanmu, tanggung jawabmu akan besar sekali. Dan jika engkau diangkat tanpa permintaan, engkau akan ditolong orang dalam tugasmu." (HR Muslim)
Dampak buruk lain dari ambisi menjadi pemimpin yaitu melipatgandakan dosa. Rasulullah saw bersabda, " ... Dan barangsiapa mempelopori suatu perbuatan buruk, ia akan menanggung dosanya, ditambah dosa orang-orang yang ikut melaksanakan perbuatan buruk itu setelahnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR Muslim, Turmudzi, Ibn Majah dan Ahmad)
Salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit ambisi menjadi pemimpin yaitu dengan selalu mengingat kedudukan dunia dibanding dengan akhirat berdasarkan Al-Qur'an dan hadits Rasulullah saw. Allah swt berfirman, " ... Katakanlah, kesenangan di dunia itu sebentar. Dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa ... " (QS an-Nisa':77)
"Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik." (QS Ali 'Imran: 14)
Rasulullah saw bersabda, "Dunia, dibanding akhirat, hanyalah seperti kalian mencelupkan jari kalian di air laut, lalu perhatikanlah air yang menetes kembali (itulah dunia)." (HR Muslim, Turmudzi, Ibn Majah dan Ahmad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar